LUBUK PAKAM, BRANTAS86,
Potensi hilirisasi ubi kayu atau singkong menjadi fokus utama yang dibawa Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) yang digelar pada rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), di IKM Hall, Kamis (2/7/2026). Melalui penguatan industri pengolahan, Deli Serdang menargetkan singkong tidak lagi sekadar dijual sebagai hasil panen, melainkan menjadi produk bernilai tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, masa depan pertanian tidak lagi hanya diukur dari besarnya hasil panen, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang mampu diciptakan setelah komoditas tersebut diolah.
Gagasan itulah yang disampaikan Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, saat menjadi narasumber pada sesi diskusi bertajuk Kolaborasi Antar Daerah dalam Memperluas Jangkauan Pasar dan Memenuhi Kebutuhan Masyarakat yang Tidak Dapat Diproduksi Sendiri melalui Perdagangan Antar Daerah.
Menurutnya, Deli Serdang memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi pusat agroindustri ubi kayu di Sumatera Utara. Pembangunan tidak hanya difokuskan pada sektor budidaya, tetapi juga diarahkan pada pengembangan industri pengolahan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
“Deli Serdang memiliki potensi besar menjadi pusat agroindustri ubi kayu di Sumatera Utara. Yang kita bangun bukan hanya sektor hulunya, tetapi juga industri pengolahannya sehingga petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik, UMKM berkembang, lapangan kerja bertambah, dan daya saing daerah semakin meningkat,” ujar Asri Ludin.
Saat ini, dari sekitar 97.500 hektare lahan pertanian yang dimiliki Deli Serdang, lebih dari 12.400 hektare dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya ubi kayu. Komoditas tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Kutalimbaru, Sibolangit, Biru-Biru, STM Hulu, Pancur Batu, hingga Hamparan Perak.
Produksi singkong pun terus menunjukkan tren peningkatan. Dalam beberapa tahun terakhir, hasil panen naik dari 88.904 ton menjadi 104.137 ton dan kini mencapai 109.310 ton. Selain memiliki estimasi produksi sekitar 73.200 ton per tahun dari sentra utama, daerah ini juga masih memiliki peluang perluasan lahan budidaya sekitar 2.500 hektare.
Menurut Asri Ludin, potensi tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar apabila didukung dengan hilirisasi.
Harga singkong di tingkat petani saat ini berkisar Rp1.500 per kilogram. Namun setelah diolah menjadi keripik, nilai jualnya dapat melonjak hingga sekitar Rp36.000 per kilogram, dengan estimasi keuntungan bersih mencapai Rp7.200 per kilogram.
“Hilirisasi menjadi kunci agar komoditas tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi masyarakat,” katanya.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Saat ini telah berkembang 186 unit usaha keripik singkong dan 99 unit usaha opak tradisional di berbagai wilayah Deli Serdang.
Salah satu pelaku UMKM, UD Kreasi Lutvi, bahkan berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Korea Selatan. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa produk olahan singkong Deli Serdang memiliki kualitas dan daya saing di pasar internasional.
Untuk memperkuat ekosistem industri tersebut, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang terus memberikan berbagai dukungan, mulai dari penyediaan bibit unggul, pembangunan jalan usaha tani, penguatan kelompok tani, fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembangunan Rumah Produksi Bersama, hingga perluasan akses pemasaran bagi pelaku UMKM.
Ke depan, pemerintah daerah menargetkan peningkatan nilai tambah produk ubi kayu hingga 40 persen, memperluas sentra produksi di 10 kecamatan prioritas, serta meningkatkan jumlah UMKM olahan singkong yang telah tersertifikasi dari 120 menjadi 300 unit usaha aktif.
Sementara itu, Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, menegaskan Forum Bisnis Daerah dibentuk untuk memperkuat perdagangan antardaerah melalui pemanfaatan komoditas unggulan masing-masing wilayah.
Menurutnya, dengan pasar domestik yang mencapai sekitar 288 juta penduduk, setiap daerah memiliki peluang besar untuk saling melengkapi kebutuhan komoditas dan memperkuat rantai pasok nasional tanpa bergantung pada produk impor.
Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Iqbal Shoffan Shofwan. Ia mengatakan perdagangan antardaerah merupakan salah satu strategi penting dalam menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pemerintah, lanjutnya, juga tengah menyiapkan sistem nasional pendataan arus barang yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2027 guna meningkatkan efisiensi distribusi komoditas antardaerah.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan tiga nota kesepahaman (MoU), yakni kerja sama Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dengan Pemerintah Kabupaten Simalungun dalam pengendalian inflasi melalui perdagangan antardaerah, kerja sama Pemerintah Kabupaten Simalungun dengan Pemerintah Kabupaten Langkat, serta kerja sama bisnis antara PT Juma Berlian dan CV Sudah Ada.
Dengan strategi hilirisasi yang terus diperkuat, Deli Serdang tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah penghasil singkong, tetapi juga sebagai pusat industri olahan yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, serta memperluas pasar hingga tingkat internasional. (Waty)
