DELI SERDANG,BRANTAS86,
Satu setengah tahun perjalanan kepemimpinan Bupati Deli Serdang dr H Asri Ludin Tambunan dan Wakil Bupati Lom Lom Suwondo SS tidak hanya diukur dari deretan program dan capaian pembangunan. Pemerintah Kabupaten Deli Serdang memilih menjadikan momentum tersebut sebagai ruang evaluasi terbuka, dengan menghadirkan akademisi, aktivis, mahasiswa dan insan pers untuk menyampaikan kritik, gagasan serta harapan masyarakat.
Forum refleksi 1,5 tahun kepemimpinan itu digelar di Aula Cadika Lubuk Pakam, Selasa (18/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat untuk melihat apa yang sudah dikerjakan, apa yang belum maksimal, sekaligus menentukan langkah perbaikan ke depan.
Bupati Deli Serdang, dr H Asri Ludin Tambunan, mengatakan forum tersebut sengaja digelar untuk menangkap berbagai masukan yang mungkin belum terhimpun melalui program penjaringan aspirasi masyarakat, termasuk program Berjemur.
Menurutnya, seluruh masukan yang diperoleh akan menjadi bahan dalam mengevaluasi kebijakan sekaligus penyusunan RAPBD dan arah pembangunan daerah.
“Refleksi ini saya lakukan untuk mengambil elemen yang belum saya dapatkan. Selama ini kami sudah berkeliling mengambil aspirasi dari bawah. Alhamdulillah, masukan-masukan itu menjadi bagian dalam penyusunan anggaran dan kebijakan yang ada,” ujar Asri Ludin.
Selama 1,5 tahun kepemimpinan, Pemkab Deli Serdang mengarahkan pembangunan pada sejumlah sektor strategis, mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, infrastruktur hingga tata kelola pemerintahan.
Di bidang kesehatan, cakupan PAS JEMPOL tercatat mencapai 80,75 persen, sementara Universal Health Coverage (UHC) mencapai 98,70 persen hingga Juli 2026. Dari sektor investasi, realisasi yang tercatat sekitar Rp3,62 triliun.
Pada aspek pelayanan publik, penyelesaian pengaduan masyarakat melalui aplikasi LAPOR mencapai 95,2 persen pada 2026. Pemerintah daerah juga memperluas pelayanan administrasi melalui PATEN KALI yang telah menjangkau 22 kecamatan dan 205 desa/kelurahan.
Namun, bagi Asri Ludin, capaian tersebut bukan alasan untuk berhenti melakukan pembenahan. Ia menegaskan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan agar pembangunan benar-benar memberikan dampak yang dirasakan masyarakat.
“Niatan saya sederhana, menjadikan yang selama ini masalah menjadi tidak masalah,” tegasnya.
Wakil Dekan I FISIP Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Agus Riadi, menilai pembangunan Deli Serdang telah bergerak di sejumlah bidang, mulai dari pelayanan publik, pembangunan sumber daya manusia dan sosial, penguatan ekonomi masyarakat hingga pembangunan infrastruktur dan kewilayahan.
Namun, ia menilai keberhasilan pembangunan perlu diikuti dengan komunikasi publik yang kuat. Masyarakat harus mengetahui program yang telah dilakukan pemerintah sekaligus memiliki ruang untuk memberikan penilaian dan masukan.
“Kalau kita melihat pembangunan Deli Serdang, ada beberapa aspek yang sudah bergerak, mulai dari pelayanan publik, pembangunan sumber daya manusia dan sosial, penguatan ekonomi masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur dan kewilayahan. Ke depan, capaian ini perlu terus dikomunikasikan kepada masyarakat agar publik mengetahui apa yang sudah dilakukan pemerintah dan sekaligus dapat memberikan masukan,” katanya.
Agus juga mendorong pemerintah mengoptimalkan media sosial sebagai salah satu sarana komunikasi publik agar informasi pembangunan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan cepat.
Sementara itu, Dosen Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah USU, Prof Agus Purwoko, menyoroti pentingnya konektivitas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Deli Serdang.
Menurutnya, posisi Deli Serdang yang strategis menjadi modal besar untuk menarik investasi dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pembangunan konektivitas harus terus diperkuat.
“Deli Serdang memiliki posisi yang sangat strategis. Karena itu, konektivitas menjadi penting untuk menangkap arus investasi dan aktivitas ekonomi. Semakin baik konektivitas yang kita bangun, semakin besar peluang Deli Serdang mendapatkan capital inflow dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, konektivitas tidak boleh hanya dimaknai sebagai pembangunan jalan dan infrastruktur fisik. Konektivitas digital serta kemudahan pelayanan birokrasi juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan.
“Jadi konektivitas itu bukan hanya mengandalkan ruang fisik, tetapi juga harus mengendalikan ruang digital. Ketika pelayanan birokrasi semakin mudah dan bisa diakses secara digital, orang tidak lagi berpikir bahwa harus tinggal atau mengurus sesuatu di Kota Medan,” katanya.
Dari kalangan mahasiswa dan pemuda, Ketua HMI Cabang Deli Serdang, Fredi Mawan, menyampaikan sejumlah aspirasi yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata, olahraga serta pelibatan generasi muda dalam proses pembangunan.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Menurutnya, forum semacam itu penting agar pemerintah tidak hanya menerima aspirasi dari masyarakat secara umum, tetapi juga mendengar langsung kebutuhan generasi muda.
“Saya ingin mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan jajaran. Kebijakan Bapak sebagai kepala daerah menunjukkan perhatian kepada teman-teman muda. Mudah-mudahan ruang seperti ini terus dibuka,” ujarnya.
Fredi berharap pemerintah dapat menghadirkan Musrenbang Tematik Pemuda sebagai wadah khusus untuk menghimpun aspirasi organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
“Kami ingin ada Musrenbang Tematik Pemuda. Seluruh organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaan dan BEM yang ada di Deli Serdang bisa dilibatkan, sehingga aspirasi anak muda benar-benar masuk dalam perencanaan pembangunan,” katanya.
Masukan juga datang dari kalangan insan pers. Wartawan senior sekaligus Pemimpin Redaksi Media Warta Tipikor, Jenda Bangun, menilai berbagai capaian pembangunan yang dipaparkan pemerintah daerah penting diketahui masyarakat.
Namun, ia menekankan perlunya akses data dan keterbukaan informasi yang lebih baik bagi media. Menurutnya, wartawan membutuhkan data yang lengkap agar informasi mengenai pembangunan dapat disampaikan secara utuh, berimbang dan terverifikasi.
“Program-program yang sudah dicapai ini layak tayang, layak di-update dan layak diberitakan bagi kami. Tetapi kalau suatu saat wartawan datang menanyakan data, mohon dijelaskan. Dengan begitu, kami mendapat informasi yang lengkap dan masyarakat juga mendapatkan informasi yang benar,” ujarnya.
Jenda juga berharap komunikasi antara pemerintah daerah dan insan pers terus diperkuat. Hubungan yang terbuka, menurutnya, akan memudahkan media menjalankan fungsi informasinya sekaligus membantu pemerintah menyampaikan capaian pembangunan kepada masyarakat
Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo SS, menegaskan kritik dan masukan yang disampaikan dalam forum tersebut merupakan bagian penting dari proses evaluasi pemerintahan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada akademisi, aktivis, mahasiswa dan insan pers yang telah memberikan pandangan secara terbuka.
“Terima kasih kepada kawan-kawan aktivis, mahasiswa, akademisi dan media yang hari ini menyampaikan kritik dan masukannya. Bagi kami, ini adalah bagian dari demokrasi dan menjadi lecutan bagi saya dan Pak Bupati untuk terus melakukan pembenahan dalam membangun Deli Serdang,” ujarnya.
Menurut Lom Lom, perbedaan pandangan tidak seharusnya menciptakan jarak antara pemerintah dan masyarakat. Sebaliknya, kritik justru dapat menjadi energi untuk menemukan kekurangan dan memperbaikinya.
“Kami tidak alergi terhadap kritik. Justru kritik dan masukan ini menjadi bahan bagi kami untuk melihat apa yang mungkin belum maksimal dan apa yang harus diperbaiki ke depan. Mari sama-sama kita bangun Deli Serdang,” katanya.
Ia mengakui perjalanan 1,5 tahun kepemimpinan bersama Bupati Asri Ludin masih jauh dari kata sempurna. Karena itu, pemerintah akan terus membuka ruang untuk menyerap aspirasi dan mengevaluasi kebijakan yang telah berjalan.
Menutup forum refleksi tersebut, Bupati Asri Ludin menegaskan berbagai masukan yang muncul tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Pemerintah akan memilah dan menindaklanjutinya sesuai kewenangan, kemampuan daerah serta prioritas pembangunan.
Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain penguatan komunikasi dengan media dan mahasiswa, peningkatan keterbukaan informasi serta pelibatan pemuda dalam perencanaan pembangunan.
“Kita rutinkan pertemuan, baik bersama media maupun mahasiswa. Kemudian kita siapkan Musrenbang Tematik untuk pemuda, sehingga apa yang menjadi kebutuhan dan aspirasi anak-anak muda bisa kita dengarkan dan masuk dalam perencanaan pembangunan,” pungkasnya.
Refleksi 1,5 tahun kepemimpinan itu pun menjadi penegasan bahwa pembangunan daerah bukan semata-mata tentang angka dan capaian program. Lebih dari itu, pembangunan membutuhkan ruang dialog yang mempertemukan pemerintah dengan masyarakat, agar setiap kebijakan tidak hanya selesai di atas kertas, tetapi benar-benar menjawab persoalan dan kebutuhan warga Deli Serdang.(Waty)
