BINJAI,BRANTAS86.com
Laga pamungkas perebutan juara Grup B Piala Soeratin U-17 Sumatera Utara antara Dispora FC kontra Binjai City SC di Lapangan Spobda Sumut, Minggu (13/9/2026), berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Dispora FC.
Namun, kemenangan tersebut justru menyisakan polemik. Pertandingan yang semula berlangsung sengit berubah menjadi sorotan setelah kubu Binjai City SC mendapati dugaan ketidaksesuaian jumlah pemain Dispora FC di lapangan.
Kubu Binjai City mengklaim sempat menemukan 12 pemain Dispora FC berada di dalam lapangan, atau satu pemain lebih banyak dari jumlah pemain yang diperbolehkan dalam pertandingan sepak bola.
Persoalan itu diketahui ketika pertandingan sedang berlangsung. Ofisial Binjai City kemudian melakukan pengecekan dan menghitung jumlah pemain yang berada di lapangan.
Temuan tersebut sontak memicu protes dari manajemen Binjai City SC. Mereka mempertanyakan bagaimana kondisi tersebut dapat terjadi dalam pertandingan resmi yang melibatkan perangkat pertandingan.
Sebelum polemik mencuat, pertandingan sendiri berlangsung dengan tempo tinggi. Kedua tim datang dengan modal sembilan poin dan sama-sama memiliki kepentingan besar untuk mengamankan posisi teratas Grup B sekaligus memastikan tiket menuju semifinal.
Jual beli serangan terjadi sejak menit awal. Dispora FC akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2 atas Binjai City SC.
Namun, hasil akhir pertandingan kini bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Dugaan adanya 12 pemain di kubu Dispora FC menjadi persoalan yang dipersoalkan Binjai City.
Seorang pengamat sepak bola yang menyaksikan langsung pertandingan menilai kejadian tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengawasan pertandingan.
“Lucu juga melihatnya. Kok bisa terjadi? Ini menunjukkan kurang telitinya perangkat pertandingan dalam memastikan jumlah pemain yang berada di lapangan,” ujarnya. Ia meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurutnya, persoalan tersebut harus dikembalikan kepada regulasi kompetisi dan menjadi kewenangan PSSI untuk menentukan ada atau tidaknya pelanggaran serta sanksi yang diberikan.
Ia juga menyebut adanya ketentuan mengenai pemain tidak sah dalam regulasi PSSI yang dapat berimplikasi terhadap hasil pertandingan maupun sanksi lainnya apabila pelanggaran terbukti.
“Kalau memang terbukti secara aturan, tentu ada konsekuensinya. Tetapi keputusan akhir tetap menjadi kewenangan komisi atau pihak yang berwenang setelah melakukan pemeriksaan,” katanya.
Sementara itu, Match Commissioner pertandingan, Ginan Nugroho, memberikan penjelasan terkait munculnya 12 pemain di lapangan.
Menurut Ginan, kondisi tersebut berkaitan dengan instruksi pergantian pemain yang disebut tidak terdengar oleh personel yang seharusnya meninggalkan lapangan.
Instruksi tersebut kemudian disampaikan kembali melalui pengeras suara dengan menggunakan mikrofon stadion.
Penjelasan Match Commissioner tersebut menjadi bagian penting untuk mengurai bagaimana situasi 12 pemain dapat terjadi dalam pertandingan resmi tersebut.
Terpisah, Manajer Binjai City SC, Ferdy Yupa, menilai peristiwa tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.
Menurut Ferdy, pertandingan sepak bola harus menjunjung tinggi prinsip fair play, sehingga setiap tim wajib mematuhi aturan yang berlaku.
“Apapun alasannya, bermain dengan 12 orang di lapangan adalah bentuk ketidakjujuran dalam sepak bola. Kami sangat menyayangkan kelalaian ini,” tegas Ferdy saat dihubungi awak media melalui WhatsApp.
Ferdy mengatakan pihaknya akan meminta Asprov PSSI Sumatera Utara melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kejadian tersebut.
Tidak hanya meminta evaluasi terhadap Dispora FC, Binjai City juga meminta perangkat pertandingan yang bertugas dalam laga tersebut turut diperiksa.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kemenangan atau kekalahan, tetapi menyangkut kredibilitas kompetisi dan penerapan prinsip fair play.
“Kami meminta Asprov PSSI Sumut mengambil sikap tegas dan transparan. Semua harus diperiksa sesuai regulasi,” ujarnya.
Bahkan, manajemen Binjai City SC menyatakan siap mengambil langkah lebih jauh apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons.
Ferdy menyebut pihaknya mempertimbangkan untuk menarik diri dari seluruh kompetisi resmi di Sumatera Utara, termasuk Piala Soeratin dan Liga 4.
Kini, polemik tersebut berada di ranah Asprov PSSI Sumut untuk ditindaklanjuti. Publik sepak bola Sumatera Utara pun menunggu apakah dugaan pelanggaran tersebut terbukti dan bagaimana keputusan resmi terhadap hasil pertandingan Dispora FC kontra Binjai City SC.
Sebab, laga yang seharusnya menjadi penentu siapa penguasa Grup B kini justru menyisakan pertanyaan besar tentang ketelitian perangkat pertandingan dan penerapan prinsip fair play dalam kompetisi usia muda.(**Tim)
